GMB Gelar Aksi Kritik Regulasi Kementan RI Tentang Petani Millenial

Doc : Kabar86

Jakarta – Massa aksi yang tergabung dalam Gerakan Millenial Bertani (GMB) menggelar aksi damai dalam rangka memperingati hari sumpah pemuda yang jatuh pada tanggal 28 Oktober 2021 di Kementerian Pertanian (Kementan) Ragunan, Jakarta Selatan, Kamis (28/10/2021).

Dalam pernyataan sikapnya GMB pemerintah melalui Kementan membuat regulasi khusus pertanian untuk millennial serta mewujudkan kesejahteraan dan perlindungan petani.

Dalam UU NO 19 TAHUN 2013 Tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani diturunkan melalui PERATURAN MENTERI PERTANIAN  NO 67/PERMENTAN/SM.050/12/2016 Tentang Pembinaan Kelembagaan Petani hanya berfokus pada pembinaan petani.

“Atas nama kemudahan investasi dan industri, dominasi korporasi menggeser semua tatanan yang berada di level yang paling bawah. Nawacita Kementerian Pertanian tentang petani kota adalah sikap nyata bahwa Kementerian Pertanian gagal mempertahankan lahan pertanian warga yang sudah banyak dialih fungsikan menjadi kawasan terpadu industry” Ujar Koordinator Nasional GMB, Ahmad Sayuthi.

GMB menilai Kegagalan dan kegagapan dalam mengaktualisasikan UU NO 11 TAHUN 2020 dan PP NO 26 TAHUN 2021 ini tergambar dari ketidakjelasan status perlindungan serta pengembangan petani dimana negara sudah mengamanatkan melalui peraturan yang sudah dikeluarkan sedemikian rupa dengan tujuan tercapai optimalisasi kerja guna kesejahteraan masyarakat secara menyeluruh.

“Permasalahan agraria, pertanian menjadi sebuah permasalahan yang populis di masyarakat, kerap kali masyarakat tidak mendapatkan hak dan perlindungan atas tanah pertanian mereka. Penggusuran paksa, intimidasi masyarakat adat, limbah, galian mangkrak semua bermuara pada kepentingan industri” ujarnya.

“Dari BPS pun mencatat pada agustus 2019, penduduk yang bekerja pada pertanian, kehutanan, perikanan sebanyak 34,58 juta orang, turun menjadi 1,12 juta atau 1,46% dibandingkan dengan agustus 2018. Angka tersebut menjadi salah satu parameter bahwa banyak pemuda Indonesia yang enggan menjadi seoarng petani mungkin dikarenakan oleh tidak adanya pendampingan dan peningkatan kapasitas diri tentang bidang pertanian yang seharusnya makin maju dan modern,” tambahnya.