Kairo – Program Penguatan Pengambilan Fatwa di Darul Ifta’ Mesir berakhir. Giat yang berlangsung sebulan ini diikuti para kyai dan nyai, aktivis kajian hukum Islam di Indonesia.

Selama mengikuti program, mereka dibekali berbagai ilmu sekaligus metodologi khususnya di bidang fatwa. Kajian yang diberikan selama daurah, antara lain: pemahaman mendalam terhadap teks dan realitas, penguasaan terhadap Al-Qur’an, tafsir, hadis, fikih dan ushul-nya, balaghah, mantiq, gramatika dan perangkat keilmuan yang lain. Peserta juga mendapat bekal terkait dengan etik dan orientasi keberagamaan.

Penutupan program ini berlangsung di ruang pertemuan gedung baru Darul Ifta’, Kairo Mesir, Selasa (5/2/2024). Hadir, Dr. Ali Umar mewakili Darul Ifta’, Dr. Za’im Alkholis N dari KBRI untuk Mesir, sebagian dewan Masyayikh, serta para pejabat terkait.

Wakil Kepala Perwakilan RI di Kairo Republik Arab Mesir, Dr. Za’im Alkhalis Nasution, menyampaikan terima kasih kepada Darul Ifta’ atas kerja sama yang baik dalam penyelenggaraan Daurah. Menurutnya, hubungan Indonesia dan Mesir selama ini berjalan sangat baik. Mesir bahkan merupakan negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia.

Dikatakan Za’im, generasi muda Indonesia juga tidak sedikit yang belajar di Mesir, khususnya di Al-Azhar. Kontribusi para alumni Al-Azhar di Tanah Air juga sangat besar. Sehingga kerja sama dengan berbagai pihak termasuk dengan Darul Ifta’ harus selalu diperkuat dan semakin baik untuk kemaslahatan bersama.

“Program Daurah yang diinisiasi oleh Kementrian Agama Republik Indonesia bekerjasama dengan LPDP ini juga sangat baik untuk ditindaklanjuti,” ungkapnya.

Mewakili Darul Ifta’, Dr. Ali Umar mengapresiasi peserta Daurah yang merupakan para kiai aktifis kajian hukum di Indonesia. Apresiasi juga disampaikan ke Kementerian Agama yang menginisiasi program ini.

“Kami berharap jalinan kerja sama selalu kuat dan produktif, tidak hanya itu, bahwa wawasan, keilmuan, serta paradigma keberagamaan yang moderat menjadi bagian dari “oleh-oleh” yang dapat diimplementasikan serta dikembangkan di Indonesia,” sebutnya.

Mewakili peserta, Gus Anis Masduqi, menyampaikan terima kasih kepada para Masyayikh Darul Ifta’. Peserta berharap ilmu sekaligus metodologi serta atmosfir akademik yang ditimba dari Darul Ifta’ dapat dijalankan dan disesuaikan dalam pengembangan diskusi-diskusi agama, moderasi dan lainnya khususnya di bidang fatwa.

Dalam penutupan, peserta “syahadah” yang ditandatangani Grand Mufti Mesir Prof. Dr. Syauqi Allam. Syahadah ini sebagai bukti legalitas dan apresiasi program Daurah yang dianggap sukses baik proses maupun hasil. Kepada Darul Ifta’, peserta memberikan kenang-kenangan berupa kitab-kitab karya Ulama Nusantara dan beberapa karya keterampilan santri. Acara diakhiri dengan foto bersama, ramah-tamah serta berpamitan. (Red)