Forma SKSG UI: Mengajak Semua Elemen Berperan Menangkal Paham Radikalisme di Kampus

Doc : Kabar86

Jakarta- Forum Mahasiswa Sekolah Kajian Stratejik dan Global (SKSG) Universitas Indonesia yang diketuai oleh Bahal Siregar mengajak semua elemen untuk terlibat aktif memperkokoh peran mahasiswa dalam menangkal paham radikalisme disampaikan pada sambutannya di acara seminar dialog kebangsaan pada senin (18/04) di Aula SKSG UI, acara dilaksanakan secara hybrid yaitu online dan offline. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk memberikan wawasan kepada mahasiswa tentang pentingnya peran mahasiswa dalam menangkal paham radikalisme serta bahayanya. dan bagaimana para mahasiswa sebagai agent of change memperkokoh wawasannya tersebut dalam kehidupan bernegara sehari-hari.

Kegiatan dibuka secara langsung oleh Ketua Program Doktor SKSG UI Dr. Drs. A. Hanief Saha Ghafur, M.Si. dan menghadirkan empat narasumber ternama dari Direktur Jaringan Moderat Indonesia, Cak Islah Bahrawi. sebagai narasumber utama dalam dialog tersebut, serta Dr. Sapto Priyanto, A.Mi, SH, M.Si selaku dosen Kajian Terorisme SKSG UI sebagai narasumber kedua dalam dialog tersebut. Kemudian dari Badan Penanggulangan Extremisme dan Terorisme Majelis Ulama Indonesia (BPET MUI) Ibu Riri Kharirah, dan yang terakhir Robi Sugara, M.Sc dari pengamat Terorisme.

Dipandu oleh Mahasiswi SKSG UI yang bertindak sebagai moderator, secara bergantian narasumber memaparkan terkait akar sejarah radikalisme dan definisi dalam perspektif mereka masing-masing. Selain itu, narasumber utama lebih lanjut menjelaskan bagaimana sejarah radikalisme dalam pandangan Islam, dan bagaimana masyarakat Indonesia khususnya bisa terjebak dalam paham radikalisme yang mengarah pada ekstremisme dan terorisme, sedangkan narasumber kedua dan ketiga menjelaskan paparan radikalisme di lingkungan kampus dan upaya pencegahannya. Dilanjut narasumber yang terakhir lebih kepada konteks radikalisme yang berkembang di masyarakat dikaitkan dengan kasus- kasus yang belakangan ini terjadi.

Lebih lanjut Robi Sugara, menjelaskan persoalan besar ketika seseorang dihadapkan dengan dua pilihan antara agama dan lainnya. Maka dia akan lebih memilih agama sebagai kunci dari setiap problem hidupnya. Hal ini lantaran agama hanya sebagai simbol tanpa didasari dengan pengetahuan dan pengalaman yang lebih baik. Ia kemudian mencontohkan tentang tiga kasus pemuda yang terjebak dalam radikalisme karena lingkungan sekitar dan diimingi membela agama untuk kemudian pergi jihad ke suriah, dan afghanistan. Hal tersebut bisa terjadi lantaran ketiga pemuda minim terkait ilmu pengetahuan agama, dan mendapatkan guru yang salah.

Diakhir, semua narasumber mengajak para audiens untuk memperkokoh perannya dalam menangkal paham radikalisme yang tengah berkembang saat ini. Serta berupaya mengkaji lebih lanjut wawasan kebangsaan dalam berbangsa dan beragaman untuk bisa menyelamatkan Indonesia dari bahaya Radikalisme.