Yustinus Prastowo: Kabinet Jokowi Obesitas Susah Bergerak Maju, Awas Kolesterol dan Asam Urat

Jakarta – Yustinus Prastowo Pengamat Perpajakan, mengatakan ada dua fenomena yang perlu diperhatikan yaitu ketika suku bunga rendah tetapi investasi tidak naik. Fenomena kedua ada yang tidak nyambung antara pengangguran yang rendah tetapi inflasi rendah.

“Kalau dahulu pengangguran rendah inflasi dan konsumsi akan naik. Ini harus diwaspadai pemeritah ada apa,” kata Yustinur pendiri CITA (Center For Indonesia Taxation Analysis) ini, pada Seminar Nasional ‘Membaca Prospek Ekonomi 2020′ yang diselenggarakan Kaukus Muda Indonesia (KMI) di Hotel Sentral Jl. Pramuka, Jakarta Timur, Rabu (29/10/2019).

Menurutnya, ada beberapa hal yang perlu didorong untuk perbaikan ekonomi diantaranya terus mendorong investasi, ada penataan kebijakan fiskal moneter yang baik, desain otonomi daerah diperbaiki. Semua itu perlu ditunjang dengan susunan kabinet yang membawa perbaikan.

“Kita harus tetap optimis terhadap peningkatan pertumbuhan ekonomi, namun kita juga harus tetap mengkritisi setiap kebijakan dan langkah demi memastikan pemerintahan berjalan dengan benar. Saya setuju jika Jokowi benar-benar mengawasi birokrasinya,” pungkasnya.

Menurutnya Kabinet Indonesia Maju adalah kabinet obesitas. Dimana pemerintahnya berharap terjadi efektifitas dan pemangkasan dalam perijinan investasi, debirokratisasi dan deregulasi, tetapi kabinetnya gemuk.

“Pak Jokowi berharap meningkatkan pertumbuhan ekonomi, akan tetapi para menterinya kurang pas atau kurang profesional di bidangnya. Oleh karena itu perlu terobosan di tingkat birokrasi yang satu pintu dan satu komando” tegas Yustinus yang sangat pesimis ekonomi tumbuh diatas 5 persen.

Bhima Yudhistira Pengamat Ekonomi INDEF, pesimis ekonomi tumbuh diatas 5 persen, sebab bisa bertahan agar tidak turun 5 persen sudah cukup bagus. Kata Bhima sapaan akrabnya,
menilai adanya ramalan soal ekonomi Indonesia akan tumbuh 5,1 hingga 5,5 persen pada tahun 2020 hanya sebuah rumor saja.

“Akibat adanya perang dagang antara Amerika Serikat dan Cina tidak memungkinkan terjadinya akselerasi pertumbuhan ekonomi lebih dari 5 persen. Banyak hal yang sulit dikendalikan akibat dampak dari perang dagang,” ujar Bhima sapaan akrabnya.

Katanya, perang dagang ini seharusnya dapat menguntungkan Indonesia, tetapi permasalahannya adalah belum siapnya SDM dan adanya hambatan regulasi pemerintah. Sehingga pada akhirnya menciptakan ekonomi biaya tinggi.

“Efek dari perang dagang pengalihan barang-barang dari China banyak yang masuk ke Indonesia, salah satunya melalui e-commerce. Barang dari China berjubel-jubel masuk ke Indonesia dengan mudah dan murah,” terang Bhima.

Tentunya, lanjut Bhima, kondisi ini menyebabkan generasi muda sekarang banyak berlomba-lomba ingin menjadi importir sukses, dibandingkan menjadi wirausaha sukses. Apalagi katanya, ditambah adanya kendala soal izin dan pajak dari pemerintah yang belum dipangkas.

“Kedepan bisnis yang bagus adalah kuliner tradisional dan kopi daerah, karena mahalnya biaya pesawat. Sehingga biaya perjalaan meningkat tajam. Ngak perlu jauh jauh ke Bali atau ke Aceh cukup wisatanya di kafe-kafe yang menawarkan produk daerah tapi tersedia di Jakarta,” lugasnya.

Bhima menambahkan, hal lain yang perlu diwaspadai adalah menjamurnya start-up yang mendapat suntikan dari investor dan menjadi suatu kekhawatiran ketika dengan kondisi ekonomi sekarang mereka gagal menjual sahamnya ke publik. Terkait kabinet baru, ia sangat menyayangkan terhadap jabatan menteri yang seharusnya diisi oleh tim-tim ekonomi, justru diisi dari parpol.

“Saya mendorong Presiden segera melakukan reshuffle jika dalam waktu 100 hari kerja indikator-indikator ekonomi tidak bisa diperbaiki,” jelasnya.

Sementara itu Jefri Butar-Butar Senior Analysis APINDO, mengatakan bagi dunia usaha APINDO lebih konsen kepada isu-isu sektoral dan lintas sektor seperti manufaktur, pangan, pariwisata, dan energi. Menariknya pertumbuhan UKM yang pesat tidak dibarengi dengan tumbuhnya ekspor produk UKM itu sendiri sehingga menimbulkan kemacetan.

“Untuk menjadikan ekspansi para UKM, salah satunya adalah pemasaran melalui digital. Saya optimis pertumbuhan ekonomi mampu mencapai lebih dari 5 persen,” ungkapnya.

Acara Seminar Nasional Membaca Prospek Ekonomi 2020’ dimoderatori Gus Din atau Syafrudin Budiman SIP sosok muda Konsultan Media dan Politik. Acara berlangsung sukses dan berjalan lancar ditutup dengan foto bersama pembicara, moderator dan panitia.

Acara ini juga berkejasama dengan Jamkrindo, Mandiri dan Askrindo serta dihadiri dari semua elemen masyarakat. (red)