Program Vokasi Industri Era Pemerintahan Jokowi-JK Dinilai Baik

Jakarta, – Program pendidikan vokasi yang terhubung dan sesuai atau “link and match” antara sekolah menengah kejuruan (SMK) dengan dunia industri yang dijalankan pada masa pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Wapres Jusuf Kalla dinilai baik untuk menyediakan lapangan kerja bagi lulusan SMK mengingat tingkat penganggurannya cukup besar.

“Itu cukup baik. Memang sudah seharusnya seperti itu, artinya SMK perlu didukung dari berbagai hal, baik kurikulum, permesinan, maupun pendanaannya,” kata Ekonom dari Institute for Development of Economic and Finance (Indef) Andry Satrio Nugroho ketika dihubungi di Jakarta, Kamis.

Menurut Andry, sudah seharusnya SMK menghasilkan sumber daya manusia (SDM) yang mengikuti pola perkembangan industri masa kini sehingga tidak lagi tertinggal baik secara kurikulum maupun teknologi.

“Masalah di SMK memang pembiayaan, terutama swasta. Nah, apabila persoalan ini sudah dapat diatasi, apalagi dengan mempertemukannya dengan dunia industri, ini akan sangat membantu,” ungkap Andry.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menjelaskan, pendidikan vokasi yang link and match antara industri dan SMK ini merupakan salah satu program yang diwujudkan secara konkret oleh Kementerian Perindutrian dalam upaya menyediakan satu juta tenaga kerja tersertifikasi sampai 2019.

Program lain yang dilakukan untuk mencapai target tersebut yakni melalui pendidikan vokasi berbasis kompetensi dengan konsep dual system di seluruh unit pendidikan milik Kementerian Perindustrian, memfasilitasi pembangunan politeknik di kawasan industri, serta pelatihan industri berbasis kompetensi dengan sistem 3 in 1 atau pelatihan, sertifikasi dan penempatan kerja.

Sesuai arahan Presiden Joko Widodo, ketersediaan SDM kompeten akan mendongkrak daya saing industri nasional, terlebih bagi mereka yang memahami dan menguasai teknologi digital sesuai kebutuhan di era industri 4.0 saat ini.

“Dengan demikian dapat memacu sektor industri kita agar lebih kompetitif di kancah global. Hal ini sesuai dengan implementasi peta jalan Making Indonesia 4.0,” ujar Airlangga.(Ant)