Harga Minyak Turun, Menyusul Kekhawatiran Baru Perang Dagang

New York, – Harga minyak turun pada Jumat (Sabtu pagi WIB) di tengah kekhawatiran baru atas perang perdagangan AS-China, tetapi minyak berjangka masih membukukan kenaikan mingguan, dengan Brent menandai kenaikan mingguan terbesar sejak Januari, setelah serangan terhadap industri minyak Arab Saudi akhir pekan lalu.

Harga minyak mentah Brent untuk pengiriman November turun 0,12 dolar AS menjadi ditutup pada 64,28 dolar AS per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Oktober turun 0,04 dolar AS menjadi menetap pada 58,09 dolar AS per barel.

Harga minyak memangkas kenaikan bersama dengan pasar saham dan pasar biji-bijian setelah pejabat pertanian China yang akan mengunjungi negara-negara bagian pertanian AS minggu depan membatalkan perjalanan mereka ke Montana dan Nebraska untuk kembali ke China lebih cepat dari yang dijadwalkan semula.

Pembatalan itu terjadi ketika pembicaraan perdagangan diadakan di Washington dan Presiden AS Donald Trump mengatakan dia menginginkan kesepakatan perdagangan lengkap dengan negara Asia itu, bukan hanya perjanjian bagi China untuk membeli lebih banyak barang pertanian AS.

Namun untuk minggu ini, Brent naik 6,7 persen, kenaikan terbesar sejak Januari, sementara WTI naik 5,9 persen, terbesar sejak Juni.

Produsen minyak serpih AS mengambil peluang untuk mengunci pendapatan berjangka tahun ini dan berikutnya setelah harga minyak melonjak paling tinggi dalam 30 tahun awal pekan ini setelah serangan, sumber yang akrab dengan aliran uang mengatakan.

Manajer uang menaikkan posisi net long minyak mentah berjanga AS dan opsi sebanyak 11.209 kontrak menjadi 220.758 dalam minggu yang berakhir 17 September, Komisi Perdagangan Berjangka Komoditas AS (CFTC) mengatakan.

Pasar minyak melonjak hampir 20 persen pada Senin (16/9/2019) sebagai reaksi terhadap serangan 14 September, yang mengurangi separuh produksi Saudi dan memotong pasokan global sekitar lima persen. Namun harga sejak itu memangkas sebagian besar keuntungan karena jaminan dari kerajaan bahwa pihaknya akan mengembalikan produksi yang hilang pada akhir bulan ini.

Namun, harga telah mempertahankan premi risiko karena ketegangan geopolitik di wilayah tersebut meningkat dengan Amerika Serikat dan Arab Saudi menuduh Iran dibalik serangan tersebut. Teheran menyangkal keterlibatannya.

Serangan itu telah mengintensifkan pertarungan selama bertahun-tahun antara Arab Saudi dan Iran, yang dikurung dalam kontes kekerasan untuk mendapatkan pengaruh di beberapa titik nyala di sekitar Timur Tengah.

Koalisi yang dipimpin Saudi pada Jumat (20/9/2019) melancarkan operasi militer di utara kota pelabuhan Hodeidah Yaman sementara Amerika Serikat bekerja dengan negara-negara Timur Tengah dan Eropa membangun koalisi untuk mencegah ancaman Iran.

Perusahaan milik negara Saudi Aramco telah mengalihkan grade minyak mentah dan menunda pengiriman minyak mentah serta produk minyak kepada pelanggan beberapa hari setelah serangan tersebut yang sangat mengurangi produksi minyak ringannya dan menyebabkan penurunan produksi di kilangnya, kata sumber pasar.

Sementara menunjukkan kepada wartawan kerusakan ladang Khurais dan fasilitas pemrosesan minyak Abqaiq, Aramco mengatakan sedang mengirim peralatan dari Amerika Serikat dan Eropa untuk membangun kembali fasilitas yang rusak. Ia juga mengatakan bahwa Abqaiq diharapkan memiliki kapasitas penuh pulih pada akhir bulan.

“Pertanyaannya adalah apakah mereka dapat meyakinkan pasar bahwa mereka dapat menjaga ladang minyak mereka aman,” kata Phil Flynn, seorang analis di Price Futures Group di Chicago, dalam sebuah catatan.

Di Amerika Serikat, sementara itu, banjir dari Badai Tropis Imelda memaksa kilang-kilang utama memotong produksi, sementara pipa saluran minyak utama, terminal dan saluran kapal di Texas ditutup, menurut sumber yang akrab dengan operasi.

Exxon Mobil Corp menutup beberapa unit di kilang Beaumont 369.024 barel per hari (bph) sementara Valero Energy Corp mengurangi produksi di kilang Port Arthur 335.000 barel per hari.

Perusahaan energi AS minggu ini mengurangi jumlah rig minyak yang beroperasi selama lima minggu berturut-turut ke level terendah sejak Mei 2017. Pengebor memotong 14 rig minyak dalam seminggu hingga 20 September, sehingga jumlah totalnya turun menjadi 719 rig, kata perusahaan jasa energi Baker Hughes. Demikian laporan yang dikutip dari Reuters. (Ant)