Dampak Pandemi Melanda Negeri

Penulis: Rismawati [editor: Amri Jumanto.

Tahun 2020 memang tahun yang sangat istimewa dan juga mengagetkan untuk warga indonesia dan seluruh dunia, dengan datangnya musibah yang diakibatkan oleh virus corona dimana itu berawal dari sebuah kota kecil di daratan china, bernama wuhan.

Banyak orang berpendapat bahwa ini adalah sebuah musibah yang sudah dirancang dan tidak sedikit juga yang berpandangan bahwa ini sebuah hukuman untuk manusia dengan berbagai dosa yang sudah kita lakukan terhadap alam, namun mayoritas umat manusia percaya bahwa ini memang musibah alami yang terjadi. Apapun itu musibah ini sudah membuat kesusahan umat manusia baik secara jasmani atau rohani, baik secara kesehatan atau perekonomian dan aspek-aspek yang lainnya.

Semua hal yang terjadi diatas terasa juga oleh kita bangsa indonesia, dengan segala kelebihan dan kekurangannya pemerintahan Indonesia saat ini telah berusaha untuk memberi pananggulangan pandemi ini dengan segala cara, mulai dari penyuluhan prosedur kesehatan khusus untuk menangkal penyebaran virus corona dengan program 3M, memberi bantuan langsung tunai (BLT) untuk yang terkena dampak pandemi ini seperti orang-orang yang mata pencahariannya terganggu karenanya atau orang-orang yang kena pemutusan hubungan kerja (PHK), membuat vaksin untuk penanggulangan virus ini, memberi keringanan dalam pembayaran pajak, dan usaha-usaha secara makro maupun mikro yang lainnya. Walaupun itu semua ada dampak positif dan negatifnya serta pro dan kontra terhadap beberapa kebijakan yang dibuat oleh pemerintah dari masyrakat.

Walaupun segala usaha telah dilakukan oleh pemerintahan kita, tapi itu semua tidak dapat membendung dampak-dampak dalam berbagai aspek kehidupan saat pandemi ini. Banyak di berita kita menyaksikan kejahatan meningkat karena desakan ekonomi yang semakin terseok-seok, para pelaku usaha banyak yang gulung tikar baik yang mikro ataupun makro, baik usaha skala daerah maupun skala nasional. Lebih prihatin lagi saat dimana negara kita sedang menggembor-gemborkan promosi “wonderful Indonesia” guna meningkatkan gairah parawisata kita yang kaya dengan keindahan alam dimana itu bisa membius dunia, semua itu terhenti sejenak akibat pandemi ini.

Kita tahu salah satu kebijakan yang diambil oleh pemerintah guna menghambat penyebaran virus corona adalah dengan dilaksanakannya PSBB atau dengan istilah lain adalah pembatasan untuk skala daerah dimana kita dilarang untuk bepergian menuju daerah lain, serta kebijakan dimana kita harus di rumah terus melalui gerakan #dirumahaja. Karena hal ini banyak daerah wisata yang mengalami kemunduran total secara kunjungan dimana itu berdampak kepada perekonomian daerah tersebut, apalagi untuk daerah yang menjadikan pariwisata sebagai tumpuan pendapatan daerahnya, seperti bali, lombok, papua, sulawesi dengan bunakennya dan juga daerah-daerah destinasi wisata lainnya.

Salah satu daerah yang tersendat juga adalah kawasan wisata pantai sawarna di kecamatan bayah, kabupaten lebak, Banten. Pantai ini digadang-gadang sebagai “the next Bali from Java”. Dampak Pandemi sangat jelas terasa oleh pelaku bisnis wisata didaerah tersebut, misalnya saja salah satu pelaku bisnis penginapan yang ada di sawarna pak Ace yang memiliki homestay di dekat pantai sawarna mengaku merugi sampai 100 juta rupiah dalam musim liburan sekolah, selain karena dia mempunyai pinjaman guna merenovasi penginapan yang dimilikinya dan biasanya akan bisa di kembalikan setelah musim liburan sekesai, ditambah dengan sepi dan memang tidak ada pengunjung, jadi pengembalian modal sangat sulit.

 “saya biasanya di musim liburan sekolah atau kuliah itu bisa mendapatkan untung 20-50 juta dalam satu hari, tapi sekarang tidak sampai 5 juta dalam seminggu, corona ini sungguh menyulitkan” kata Pak Ace ketika kami temui di penginapannya.

Tidak hanya sampai disitu kesulitan yang dialami beberapa pelaku bisnis wisata, tidak sampai kepada sepinya pengunjung atau pelarangan untuk melakukan wisata, akhir dari itu semua adalah dengan banyaknya pengusaha yang mengalami gulung tikar dalam situasi pandemi ini disertai dengan meninggalkan banyak hutang yang masih harus dilunasi, sekalipun beberapa bank memang memeberikan kebijakan kredi karena situasi pandemi, tapi tetap saja hutang itu akan membayangi para pengusaha. Sama seperti yang dialami oleh Pak Ace tadi diatas, sebenarnya tidak hanya pada lapisan terkecil saja, memang pada tingkatan yang lebih tinggi seperti pemerintahan indonesia dengan adanya pandemi ini menimbulkan kebutuhan-kebutuhan yang harus dipenuhi namun karena anggaran kita terbatas maka mau tidak mau pemrintah indonesia harus berhutang kepada bank dunia, dan menyebabkan hutang keluar negeri kita semakin bertambah.