Bengkulu Utara – UMKM mampu menyerap 97 persen dari total angkatan kerja dan mampu menghimpun hingga 60,4 persen dari total investasi di Indonesia. Berdasarkan data diatas, Indonesia mempunyai potensi basis ekonomi nasional yang kuat karena jumlah UMKM yang sangat banyak dan daya serap tenaga kerja sangat besar.

Ini disampaikan oleh Parmin, politisi senior, saat membahas proyeksi geliat ekonomi UMKM, yang dia anggap masih sangat strategis. Penegasannya ini lebih dari sekadar gagasan. Sebelum terjun ke dunia politik, politisi PDIP ini telah berpengalaman dalam bidang bisnis.

Pandangan positif juga disampaikan Parmin kepada eksekutif. Pemkab BU dipandangnya telah memberikan ruang kepada para pelaku UMKM pada Pekan Raya dalam rangka peringatan Hari Jadi Pemindahan Ibu Kota Kabupaten BU ke 47.

“UMKM ini, nantinya memiliki wadah yang juga didesain adaptif dengan perkembangan jaman, kebutuhan pasar yang lebih luas serta pasar yang lebih kompetitif,” ungkap Parmin.

Desakan legislatif soal transformasi UMKM di Bengkulu Utara ini, pelaku bisnis UMKM dalam pergerakan uang di masyarakat, seperti nyendat. Kondisinya, seolah keberadaan uang tengah ditahan para pemiliknya. Situasi itu pun berimbas dengan lesunya lalulintas perekonomian. Salah satunya di sektor usaha kecil dan menengah; kriya alias kerajinan tangan.

Sebelumnya, kondisi UMKM lokal sempat menurun pada 2 tahun pertama pandemi Covid-19 yakni di tahun 2020-2021. Berdasarkan survei dari UNDP dan LPEM UI yang melibatkan 1.180 responden para pelaku UMKM, lebih dari 48% UMKM pada periode tersebut mengalami masalah bahan baku. (Adv)